Berita

Lembaga Mahasiswa

Trotoar Kantor Kabupaten Jadi Panggung Perlawanan: Warga Blitar Gelar Pasar Gratis dan Nobar Sikapi Krisis Ekologi Hingga Represi

Administrator 05 Oct 2026 3x

Trotoar di depan Kantor Kabupaten Blitar mendadak riuh dan hangat pada Minggu (27/9/2026). Ratusan warga yang tergabung dalam aliansi Ruang Sipil Blitar menggelar aksi perlawanan kebudayaan bertajuk “Rebut Ruang Publik #2”. Berlangsung sejak pukul 15.00 hingga 22.00 WIB, aksi kolektif ini memadukan aksi sosial, pameran literasi, hingga diskusi politik sebagai bentuk solidaritas di tengah tekanan ekonomi dan krisis lingkungan. ​

Di awal kegiatan, warga mendirikan Pasar Gratis berbasis swadaya tanpa transaksi uang. Bahan pangan pokok seperti beras, sayur-mayur, telur, hingga pakaian layak pakai dibagikan secara cuma-cuma tanpa syarat administrasi. Koordinator Acara, Reyda Hafis, menyebut aksi ini sebagai respons atas absennya pemerintah daerah dalam menjamin kebutuhan dasar warga. 

“Pasar Gratis ini adalah tindakan politik warga untuk membuktikan bahwa di saat pemerintah sibuk dengan proyek fisik, rakyat sanggup saling menjaga,” kata Reyda.

​

_MG_3953.JPG=w352-h264-p-k-no-nuDoc. Serayu Nusantara

 

Selain masalah perut, aliansi ini menyoroti penggusuran perpustakaan sekolah demi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta krisis lingkungan akibat alih fungsi lahan dan timbulan sampah Blitar Raya yang menembus lebih dari 250 ton per hari. Lewat Lapak Baca Gratis di trotoar, massa menegaskan perlawanan terhadap perusakan ruang edukasi publik tersebut.

​Memasuki malam hari sekitar pukul 18.30 WIB, suasana aksi berlanjut dengan pemutaran film dokumenter “MAKin Ditekan Makin Melawan” yang disaksikan secara lesehan. Film yang mengulas rekam jejak kriminalisasi aktivis dan penangkapan massal pasca-aksi Agustus 2025 lalu itu dilanjutkan dengan diskusi publik. ​Hadir sebagai pemantik diskusi, pegiat sosial Blitar Jesus Anam menilai ada benang merah antara represi di tingkat nasional dengan kekerasan struktural di daerah, seperti perusakan lingkungan akibat tambang pasir dan krisis sampah. Menurutnya, pemutaran film di depan kantor pemerintahan adalah instrumen politik kebudayaan untuk merawat ingatan publik. 

“Ketika ruang baca anak-anak digusur dan ekosistem sungai dirusak, negara sedang melakukan kekerasan struktural,” tegas Jesus Anam di hadapan massa.

​Aksi yang melibatkan lintas organisasi kemahasiswaan dan komunitas lokal seperti PMII, HMI, GMNI, Verde Rose, Lapak Baca Ceria, FORSA, hingga Sekolah Filsafat Jalanan Jatim ini ditutup pukul 22.00 WIB dengan tertib. Seluruh peserta berkomitmen untuk terus mengawal isu kebebasan sipil dan kedaulatan lingkungan di Blitar.

Penulis: Alfina

Berita Populer